Semakin Kaya, Semakin Serakah

diet langsing smart detox

greedy
Kaya itu mulia, kaya itu bagus, kaya itu memungkinkan Anda bisa berbuat banyak, seperti berderma dan membantu orang-orang yang kesusahan. Intinya, kaya itu bisa, bisa,dan bisa. Hanya saja, harus ada keseimbangan dan tidak menjadi serakah. Ada sebuah dongeng dari China tentang orang yang semakin kaya semakin serakah.Alkisah di pinggirang sebuah desa kecil, hiduplah sebuah keluarga paruh baya yang cukup bahagia.
Mereka banyak teman dan disenangi orang-orang di sekitarnya. Walaupun kehidupan mereka hanya ditopang oleh bisnis toko kecil yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari,mereka tidak segan-segan menolong oarng yang mengalami kesusahan.
Dengan ramah, jujur, penuh semangat, dan tulus mereka melayani para pembeli, tanpa pandang bulu. Pelayanan yang bagus ditambah harga barang yang wajar memjadikan tokokecil itu tempat belanja yang menyenangkan. Semakin hari,semakin banyak pelanggannya sehingga semakin berkembang tokonya.
Suatu ketika, Dewi Keberuntungan melihat kejadian ini dan ingin memberi mereka lebih banyak harta sebagai ungkapan atas kejujuran, pelayanan, dan kebaikan hati pedagang ini dalam melayani orang-orang di desa tersebut. Pada suatu malam ketika keluarga tersebut sedang istirahat, turunlah Dewi keberuntungan.
Dewi berkata, “Kebaikan hati kalian telah menyentuh hati para dewa-dewi, oleh sebab itu saya membawakan tujuh gentong yang berisi perhiasan untuk kalian. “Penjelasan itu membuat mereka merasa lega sekaligus gembira sehingga dapat menerima kehadirannya tanpa merasa takut lagi.
Setelah Dewi Keberuntungan pergi, mereka mulai membuka gentong-gentong tersebut. Saat gentong pertama dibuka, mata mereka langsung terbelalak karena rasa kaget yang luar biasa, mereka melihat segentong penuh perhiasaan emas. Dalam hati mereka mengucapkan rasa syukur dan berterima kasih kepada Dewi Keberuntungan .
Kemudian mereka membuka gentong kedua, isinya sama persis dengan yang pertama. Dari wajah mereka tampak kegembiraan yang membuncah. Begitulah seterusnya, setiap kali membuka dan melihat yang penuh dengan perhiasan, mereka selalu tertawa gembiria. Namun, ketika membuka gentong yang ketujuh, mereka sungguh kecewa karena ternyata gentong tersebut hanya berisi perhiasan emas setengahnya.
Meliaht kenyataan ini mereka merasa kecewa dan mulai marah-marah, “Dewinya pelit kok hanya memberiakn enam setengah gentong. Padahal katanya tujuh gentong perhiasan. Bikin orang susah saja. Kita terpaksa harus mengisi sendiri gentong ketujuh ini.”
Sejak saat itu, mereka berambisi untuk mengisi penuh gentong yang baru setengah terisi itu dengan segala cara. Sikap serta perilaku mereka mulai berubah. Keserakahan mulai menghantui kehidupan mereka. Mereka bahkan tidak sempat memikirkan untuk menikmati “hadiah” enam setengah gentong perhiasan lainnya.
Yang ada dalam pikiran mereka hanya ingin mencari harta dan keuntungan semaksimal mungkin untuk mengisi kekosongan gentong yang ketujuh itu. Mereka mulai menjual barang dengan harga yang lebih mahal, tidak berderma lagi untuk menolong sesama,bahkan sampai akhirnya nekat melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji seperti menipu.
Akibatnya, mereka mulai dijauhi dan di musuhi oleh orang-orang sekitarnya dan tidak ada lagi orang yang mau membeli dari toko mereka. Ketentraman dan kebahagiaan perlahan-lahan lenyap dari kehidupan pasangan itu karena orientasi hidup, sikap mental, perbuatan, dan tindakan mereka berubah seiring bertambahnya kekayaan mereka. Bukan kekayaan mereka yang salah, melainkan keserakahan mereka.Pesan
Janganlah kita seperti pasangan pedagang tersebut. Apa yang kita usakhakan dan dapatkan perlu kita syukuri dan nikmati sebagai anugerah-Nya. Dengan enam setengah gentong perhiasan emas seharusnya mereka bisa menikamati hidup dengan amat sangat senang dan bahagia. Mereka bahkan bisa pensiun, tidak perlu bekerja keras lagi, dan dapat berbuat amal lebih banyak dari sebelumnya.tetapi, seperti itulah kenyataan dan realistis yang banyak kita jumpai dalam kehidupan ini, mereka yang semakin kaya, semakin rakus dan bahkan semakin nekat menindas yang miskin dan sengsara.
Sekali lagi ingatlah! Dalam hidup ini harus ada keseimbangan, “enough is enough”. Selain itu, kita harus membiasakan diri untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan atau pendapatan untuk ditabung, agar saat sepi rezeki, kita tidak perlu kelabakan dan pinjam ke sana-sini.

Silahkan Komen Disini